Mengembangkan Budaya Literasi di Sekolah

Foto untuk : Mengembangkan Budaya Literasi di Sekolah

Membaca dapat dikategorikan sebagai kebutuhan dasar manusia, kita akan melihat bagaimana para generasi pendahulu mewariskan ilmu, peradaban, budaya, karya seni, dan disiplin ilmu lainnya melalui tulisan-tulisan, entah itu berbentuk buku, prasasti, ataupun relief-relief.

Dengan apa kita bisa menguraikan semua warisan itu jika tidak dengan membaca? Dalam Islam, membaca merupakan hal utama, karena sesuai dengan firman Tuhan yang pertama kali turun kepada rasul-Nya, yaitu "Iqra" yang tidak lain memiliki arti "bacalah", saya yakin dalam ajaran agama lain juga mengajarkan hal yang sama, bahwa membaca adalah sesuatu yang penting dan bisa membawa dampak positif bagi pengamalnya. Disini kita dapat menggararisbawahi bahwa agama memiliki andil yang cukup signifikan dalam menanamkan budaya cinta dan gemar membaca.

Membaca seharusnya bukan lagi masuk dalam hobi, yang kerap hanya tertulis dalam data riwayat hidup, atau hanya dijadikan sebagai formalitas dalam curricullum vitae, membaca harus menjadi kebutuhan primer, sebab tak ada ilmu di dunia ini yang akan di dapat dengan tanpa membaca. Secara luas, membaca tidak selalu diartikan kegiatan mengurai susunan abjad yang tersusun menjadi sebuah kata, kalimat, maupun paragraf. Tetapi lebih dari itu, membaca bisa berarti memahami situasi, memahami gejala, memahami kondisi, memahami sebuah peristiwa, dan lain sebagainya. Hal seperti ini yang sering kita sebut dalam istilah membaca secara kontekstual.

Membaca dapat membuat nalar berpikir menjadi lebih luas, karena dengan semakin banyak membaca maka pengetahuan yang didapat juga semakin  bertambah, dengan pengetahuan yang bertambah maka akan dapat melihat sesuatu itu bukan pada satu sisi saja, melainkan bisa melihat dari banyak sisi (universal). Mengajarkan pada diri kita menjadi pribadi yang fleksibel, lues, dan tidak kaku.

Ketika kita telah sepakat menjadikan kegiatan membaca sebagai kebutuhan primer, maka mau tidak mau dalam keseharian yang kita jalani seyogyanya tak boleh terlewatkan dengan tanpa membaca, jika melewatkan sebuah kebutuhan pokok, maka konsekuensinya sama halnya kita meninggalkan kebutuhan pokok yang mengarah kepada kebendaan, seperti : makan, minum, berpakaian, dan kebutuhan pokok lainnya, apakah kita bisa hidup tanpa makan? Apakah kita bisa hidup tanpa minum? Apakah kita bisa hidup tanpa berpakaian? Tentu saja semua jawaban dari pertanyaan di atas adalah sama, "tidak bisa", begitu juga ketika membaca sudah masuk dalam kebutuhan primer, kita seharusnya dapat menumbuhkan rasa dalam alam bawah sadar kita, bahwa tanpa membaca kita tidak bisa hidup (dalam tanda kutip). Sama halnya kita tidak akan bisa hidup jika tanpa makan, minum, dan berpakain.

Di zaman milenial seperti sekarang, secara tidak langsung sebenarnya kita telah menerapkan membaca menjadi sebuah kebutuhan primer dalam kehidupan sehari-hari, lihatlah apa yang pertama kali kita pegang saat bangun tidur, kemungkinan jawaban kebanyakan orang adalah sama, yaitu smart phone, atau yang lebih dikenal dengan istilah gadget. Lalu apakah cukup dipegang? Tentu saja tidak, kita akan melihat adakah pesan yang masuk, baik itu pesan dari aplikasi-aplikasi sosial media (whatsapp, facebook, twitter, dan lain sebagainya) atau pesan reguler yang berupa SMS, dan kita akan membaca itu, belum lagi yang memiliki rutinitas update koran harian, majalah, berita-berita online, atau dengan sengaja mencari bahan bacaan melalu situs-situs dalam internet lainnya.

Menjadikan membaca sebagai kebutuhan pokok bukanlah momok yang harus ditakuti, karena sebenarnya kita telah melakukannya setiap hari, atau bahkan setiap saat. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah seberapa besar manfaat yang kita dapat dari hal-hal tersebut ? Adakah pengetahuan kita bertambah jika hanya membaca pesan-pesan dari med-sos yang notabene hanya sebagai ajang obrolan tanpa tema atau tujuan yang bermanfaat? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Lalu kita bandingkan dengan ketika kita membaca dari sebuah literatur yang mempunyai pokok pembahasan yang lebih detail dan spesifik, katakanlah itu dari sebuah buku. Pasti prosentasi kemanfaatannya akan jauh lebih besar dari pada hanya sekedar membaca pesan dari handphone yang kita miliki, jika kita bisa membaca melalui pesan yang ada pada handphone, kenapa kita merasa tidak mampu untuk meluangkan waktu membaca sesuatu yang kadar kemanfaatannya lebih besar? Bukankah ini adalah sebuah masalah yang harus kita cari jalan keluarnya ?

Zaman digital, membuat kita semakin mudah untuk mengakses segala sesuatu, bahkan sekarang kita juga mengenal istilah "e-book" (buku dalam bentuk elektronik), yang bisa kita download dari internet. Adanya e-book membuat kita semakin simpel jika ingin belajar dan membaca, tidak harus kemana-mana menenteng buku, cukup dengan gadget yang ada di tangan, kita pun bisa menikmati bacaan dimana dan kapan saja. Walaupun secara "rasa", membaca melalui e-book tidaklah sama  ketika membaca melalui buku secara langsung, tetapi ini adalah hal yang lebih baik dari pada kita melewatkan waktu luang kita dengan tanpa membaca.

Zaman sudah banyak memudahkan kita untuk dapat melakukan banyak hal, kita haruslah pandai-pandai dalam memanfaatkan fasilitas yang ada, agar kita tetap bisa bersaing dan berjalan tanpa jauh tertinggal, atau paling tidak kita sudah berada di garis jalan yang sama dengan yang lainnya. Membaca adalah salah satu kunci agar kita tetap bisa bersaing dengan yang lainnya.

Menumbuhkan minat baca bukanlah hal yang muda, namun hal ini tetap harus dilakukan dengan harapan agar generasi penerus kita tidak memandang budaya membaca merupakan sesuatu yang aneh dan asing.

Disini, selanjutnya saya akan menuliskan bagaimana kiat sekolah kami dalam "mengembangkan budaya literasi di sekolah" tingkat dasar.

Sekolah adalah tempat berjalannya sebuah aktifitas rutin belajar dan mengajar yang dibingkai dalam sebuah kurikulum (acuhan) yang telah ditetapkan oleh pendidikan pusat (dalam hal ini adalah pemerintah). Sekolah turut memiliki peranan penting dalam membentuk sebuah karakter peserta didiknya, dan terlebih pada sekolah tingkatan dasar, karena ilmu yang didapat pada sekolah dasar itulah kelak yang sering kali dijadikan sebagai pedoman bagi para siswa-siswinya. Sangatlah tepat jika budaya membaca sudah mulai ditanamkan sejak siswa mengenyam pendidikan di tingkat dasar.

Salah satu usaha untuk menumbuhkan budaya dan cinta membaca telah diterapkan dalam sekolah kami, tepatnya di SD 1 Yayasan Pupuk Kalimantan Timur. Dimana setiap satu minggu sekali sekolah telah menetapkan bahwa pada setiap hari senin pagi ada kegiatan rutin mingguan yang wajib diikuti oleh seluruh komponen sekolah, baik dari kalangan stok healder, pendidik (guru) maupun peserta didik (murid). Yaitu kegiatan yang disebut "membaca hening". Sebuah kegiatan membaca dengan model lirih, atau cukup dilantunkan dalam hati, kegiatan seperti ini diharapkan dapat menjadi stimulan bagi seluruh element sekolahan, terlebih bagi para siswa-siswinya agar memiliki kebiasaan yang berujung rasa suka untuk membudayakan membaca.

Dalam penerapannya, siswa-siswi diminta agar membawa buku pribadi atau buku yang ada di perpustakaan sekolah yang akan dibaca di lapangan sekolah secara bersama-sama (serentak), guru dan karyawan pun ikut dalam kegiatan ini, dengan tujuan dapat menjadi contoh yang baik bagi para peserta didiknya. Seusia mereka, sosok figur mempunyai peranan sangat penting, karena mereka akan melakukan dan mencontoh apa yang menjadi kebiasaan orang yang difigurkan, bagi anak didik sosok yang sering menjadi panutan bagi mereka adalah guru, karena interaksi antara anak didik dan guru masuk dalam kategori cukup intens, dalam tindak lakunya guru harus senantiasa berhati-hati agar murid tidak kehilangan sosok yang memberikan contoh positif. Oleh karena itu ada pepatah yang mengatakan "guru kencing berdiri, murid kencing berlari".

Tujuan diadakannya kegiatan membaca hening :

Menumbuhkan minat baca di sekolah adalah salah satu tujuan utama diterapkannya kegiatan membaca hening, namun ada beberapa tujuan juga yang ingin dicapai. Diantaranya yaitu :

1. Menanamkan rasa tanggung jawab pada anak didik. Dalam kegiatan ini tak ada pengawasan khusus, yang tidak lain memiliki tujuan agar peserta didik memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan tugas membacanya secara mandiri.

2. Menumbuhkan sikap perhatian kepada sesama teman. Pada saat pelaksanaan kegiatan, siswa-siswi diperbolehkan untuk mengingatkan teman yang ada disekitarnya ketika melihat mereka sedang asik bermain, ngobrol, atau melakukan kegiatan lain selain membaca, Kecuali jika sudah ada izin dari guru.

3. Melatih konsentrasi. Membaca hening bagi orang dewasa mungkin bukan masalah yang sulit, tetapi hal ini berbeda ketika diterapkan kepada siswa-siswi yang berada pada tingkatan dasar. Secara naluri, mereka lebih cenderung ingin menyuarakan apa yang mereka baca. Dengan membaca hening diharapkan dapat melatih anak didik untuk lebih bisa mengontrol emosionalnya agar tetap stabil.

Dan tentunya ada beberapa manfaat-manfaat lain lagi yang akan di dapat dalam kegiatan ini. Semoga kegiatan yang demikian juga bisa diterapkan oleh siswa-siswi yang ada di sekolah lain.

IKlan 3